Berpetualangan Bersama Manusia Perahu (bag-1)
Bagi mereka yang memiliki jiwa petualangan, mengunjungi Wakatobi mungkin bisa menjadi pengalaman seru. Di kepulauan yang ada di tenggara Sulawesi ini selain bisa menikmati keindahan panorama dunia bawah air yang indah, kita juga bisa mengikuti keseharian hidup manusia perahu, Suku Bajo.
Bagi sebagian wisatawan domestik, nama Wakatobi mungkin masih terdengar asing. Berada di bagian selatan Sulawesi Tenggara, Wakatobi adalah nama baru menggantikan nama Kepulauan Tukang Besi.
Wakatobi sejatinya adalah singkatan dari nama-nama pulau besar di kepulauan itu. Yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomea, dan Binongko. Sebagai daerah tujuan wisata alam dan budaya yang belum begitu maksimal dikembangkan, informasi mengenai rute perjalanan menuju Wakatobi memang masih belum begitu banyak disentuh oleh agen-agen wisata.
Namun, jalur umum yang biasanya ditempuh oleh para wisatawan adalah perjalanan laut dari Kendari-Bau Bau-Wanci. Rute ini memakan waktu perjalanan selama kurang lebih delapan jam. Wanci adalah Ibukota Wakatobi yang berada di Pulau Wangi-Wangi dan merupakan tempat singgah pertama sebelum melanjutkan perjalanan untuk mengarungi semua pulau yang ada di kepulauan tersebut. Seperti Kaledupa, Tomea, atau Binongko.
Sebenarnya, transportasi pelayaran umum yang menghubungkan pulau-pulau tersebut sudah tersedia. Namun masih dilayani dengan kapal yang terbatas dan hanya ada jadwal dalam beberapa hari. Karena itu sebaiknya menyediakan waktu sebanyak mungkin ketika berada di Wakatobi.
Aktivitas utama kunjungan ke Wakatobi yanga biasanya dilakukan wsiatawan adalah menyelam. Kepulauan ini memang terkenal dengan pesona keindahan bawah lautnya. Sudah pasti akan banyak hal-hal yang menakjubkan yang bisa anda temukan.
Pulau Hoga adalah satu dari sekian banyak pulau yang oleh wisatawan asing disebut-sebut memiliki keindahan bawah laut yang sangat memesona. Data dari Taman Nasional Laut Wakatobi menyebutkan, wilayah ini memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili.
Antara lain Acropora formosa, A. hyacinthus, Psammocora profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei, Fungia molucensis, Lobophyllia robusta, Merulina ampliata, Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea frondes, Stylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp.
Begitu juga dengan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini. tercatat sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias bisa ditemukan. Antara lain argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain. Ada tiga jenis penyu yang sering mendarat di pulau-pulau yang ada di taman nasional, yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).
Sementara itu beberapa jenis burung yang ada di kepulauan ini adalah angsa-batu cokelat (Sula leucogaster plotus), cerek melayu (Charadrius peronii), dan raja udang erasia (Alcedo atthis).
bersambung.....

0 comments »
Leave your response!