Menilik Konservasi di Raja Ampat (bag-1)
Kepulauan Raja Ampat terkenal sebagai perairan dengan tingkat keaneka ragaman hayati tinggi di dunia. Program Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) di wilayah ini mulai menampakan hasil dalam mensejahteraan masyarakatnya.
Dulu, Kristepu dan semua warga yang tinggal di Pulau Kawe, Kabupaten Raja Ampat, mungkin tak menyangka jika gugusan pulau yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya akan menjadi sorotan dunia. Kepulauan Wayag dan Sayang, gugusan pulau tersebut kini terkenal di dunia karena kekayaan aneka ragam hayatinya.
Ingatan kristepu kemudian kembali ke masa-masa keberadaan kedua kepulauan tersebut di tahun 70-an. “Ketika perairan di kedua kepulauan ini seperti menjadi surga ikan bagi para orang tua kami,” ujarnya.
Menurutnya, dimana pun tebar jaring pasti selalu ada ikan yang didapat dalam jumlah besar. Kebutuhan nelayan pun selalu terpenuhi. Ibarat kata, stok ikan yang ditangkap seolah tak pernah habis.
Masalah muncul ketika mulai tahun 80-an, kedua kepulauan ini banyak disinggahi oleh para nelayan dari Thailand dan Philipina. “Mereka menguasai hampir semua daratan dan perairan yang ada dengan armada yang lebih besar dari kami,” jelas Kristepu.
Bukan hanya itu, pertikaian darah antara para pendatang dan penduduk lokal pun semakin kerap terjadi. “Bagaimana tidak, setiap kami melewati armada mereka, kapal kami di bajak, hasil tangkapan kami dijarah hingga ludes,” ujarnya.
Sementara satu-satunya cara bagi penduduk lokal untuk mempertahankan hidup dan wilayah yang diakui sebagai wilayah adatnya adalah dengan melawan. “Ketika itu belum banyak patroli keamanan yang melintas di perairan ini,” kata Kristepu.
Pada akhirnya, Kristepu dan warga lainnya memang berhasil mengusir para perompak tersebut seiring dengan semakin gencarnya perang terhadap illegal fishing di semua perairan Indonesia yang digalakan oleh pemerintah. Namun rupanya masalah lain muncul.
Yaitu pola penangkapan dan pemanfaatan yang dilakukan warga ternyata tergolong merusak dan tidak mengindahkan asas-asas kelestarian. Hal inilah yang djumpai oleh Ketut Sarjana Putra, penggiat lingkungan sekaligus peneliti kelautan dari lembaga non –pemerintah, Conservation International (CI) pada awal-awal tahun 2000-an.
Ketika itu, pria asal Bali ini sedang melakukan kegiatan penyelaman di sekitar perairan Raja Ampat, Papua. “Ketika berada di dalam air, saya terkaget melihat banyaknya jenis dan spesies biota laut yang selama ini belum pernah saya temukan di perairan Indonesia lainnya,” katanya.
Namun kekagumannya justru bercampur aduk dengan rasa kekhawatiran ketika pada Pulau Ayau ia menemukan sekitar 43 cangkang (tempurung) penyu sisik yang terbengkalai. “Ketika saya temukan penyu-penyu tersebut sepertinya baru dibunuh semalam sebelumnya,” jelas ketut yang juga menjabat sebagai Director of Marine, Conservation International Indonesia. Padahal jelas-jelas jenis ini termasuk sebagai hewan yang dilindungi keberadaannya.
Berangkat dari kejadian inilah, ia dan rekan-rekannya kemudian mulai merumuskan kegiatan konservasi di kepulauan Raja Ampat. “Kami pertama-tama mendekati warga dan mencari tahu bagaimana pola penangkapan dan pemanfaatan ikan yang selama ini mereka lakukan,” ujar Ketut.
Dari pertemuan ini kemudian terungkap jika aktivitas pengeboman, pembiusan dan penangkapan merusak lainnya menjadi andalan warga dalam menangkap ikan. “Sementara penyu mereka buru untuk diambil dagingnya sebagai makanan adat pada setiap perayaan Natal,” jelas Ketut.
Bertahun-tahun pola pendekatan non persuasif dilakukan oleh lembaga ini bekerja sama dengan lembaga lainnya, The Nature Conservacy (TNC). “untuk menghilangkan perburuan penyu kami menawarkan daging babi sebagai pengganti daging penyu untuk perayaan natal,” kata Ketut. Untuk memenuhi itu, warga lokal pun kemudian diberikan pelatihan beternak babi.
Selama tahun-tahun kemudian berbagai pelatihan, penyuluhan dan bimbingan dalam rangka kegiatan konservasi pun mulai menampakan hasil. Bahkan mulai tahun 2008, warga Pulau Kawe sudah bisa menerapkan kearifan lokalnya sendiri dalam hal menjaga kelestarian lingkungan dan sumber dayanya.
“Tahun 2008 kami menerapkan sistem sasi pada pola penangkapan ikan,” ujar Kristepu. Sistem yang dimaksud adalah dengan menutup kawasan yang ditunjuk dari segala macam aktivitas penangkapan.
“Tujuannya untuk memberikan kesempatan bagi ikan untuk memijah,” kata Kristepu. Hasilnya, ketika kawasan itu dibuka kembali selama dua minggu pada medio September lalu setelah satu tahun ditutup, warga seperti ketiban rezeki nomplok.
“Hasil tangkapan kami melimpah dan jauh lebih besar dari jumlah tangkapan sebelum diterapkannya sistem sasi ini,” kata Kristepu. Melihat sukses ini, ia bersama tokoh adat lainnya pun sepakat untuk menerapkan sistem sasi setiap tahunnya. Jangka waktu penutupan dan pembukaannya, menurutnya, akan hitung berdasarkan pengamatan terhadap keberadaan ikan di laut.

0 comments »
Leave your response!