Mengarungi Taman Eden di Raja Ampat.
Ketika ada ajakan untuk mengunjungi Kepulauan Raja Ampat pertengahan Oktober lalu, terus terang hati saya girang sekaligus khawatir. Girang karena selama ini keinginan untuk mengunjungi kawasan di timur Indonesia ini begitu menggebu, khawatir karena banyaknya peristiwa kecelakaan pesawat terbang yang menuju Papua dan masih tingginya tingkat endemic malaria di wilayah tersebut. Namun ternyata ketika menginjakan kaki di tanah Papua, semua kekhawatiran tersebut hilang seperti dihembus angin.
Penerbangan selama kurang lebih empat jam dari Jakarta menuju Sorong di Papua Barat memang cukup melelahkan namun angan-angan saya terus melambung pada keindahan alam yang banyak saya lihat dari fot-foto mengenai Raja Ampat di media cetak maupun Online. Angan-angan inilah yang menghapus rasa lelah tersebut.
Saya tiba di sebuah pelabuhan Sorong tepat pukul satu siang hari, di sambut dengan teriknya sinar matahari. Menyengat memang namun tersirnakan begitu saya memasuki ruang kapal boat berukuran kurang lebih enam meter yang siap membawa saya mengarungi perairan Papua Barat.
Dari pelabuhan Sorong, sedianya perjalanan menuju Kepulauan Raja Ampat hanya memakan waktu empat jam saja. Namun ombak yang sedikit tinggi disertai dengan angin yang kencang membuat boat yang saya tumpangi tak bisa melaju kencang. Saya beserta rombongan pun tiba di Sorodai resort setelah menempuh hampir tujuh jam perjalanan.
Jamuan makan malam yang tanpa masakan laut (sea food) tetap terasa nikmat. Max Aimer, pemilik resort memang berkomitmen untuk tidak menyajikan masakan laut dengan dalih menjaga kelestarian biota laut yang ada di Raja Ampat. Setelah berbincang sejenak dengan Marcus Wanma, Bupati Raja Ampat, saya pun memulai petulangan pertama di kepulauan ini dengan berperahu mengarungi rimba lautan dalam balutan pekat malam. Dingin dalam percikan debur ombak dan tiupan angina malam tak mnegurungkan niat saya untuk sejenak berperahu selam kurang lebih satu jam mengelingi pulau-pulau yang ada.
Tepat pukul 11 malam saya kembali ke penginapan, mengistirahatkan badan untuk petualangan esok harinya.
Tepat pukul 7 pagi hari boat dengan kapasitas delapan penumpang yang membawa saya melaju menuju Pulau Kawe, satu dari sekian banyak pulau yang ada di Raja Ampat. “Raja Ampat bagaikan Taman Eden bagi kami warga di sini,” kata Kristepu yang menyambut saya dengan berbagai upacara adaty. Saya berbincang sejenak dengannya mengenai kegiatan konservasi yang dilakukan warga demi menjaga keindahan dan kelestarian alam Raja Ampat.
Ketika matahari mulai beranjak menuju peraduan di ufuk barat, saya beserta rombongan bergerak menuju Taman Eden yang di maksud. Lataknya berada di kepulauan Wayag. Inilah ikon Raja Ampat yang seringkali muncul di media cetak maupun online. Barisan pulau-pulau karang kerucut dengan hamparan laut nan biru. Keindahannya tak bisa terlukiskan. Patut jika warga setempat menyebutnya Eden. Untuk bisa mengabadikan pemandangan tersebut dengan sudut mata burung (bird eye) lewat kamera, saya memberanikan diri mendaki puncak salah satu pulau karang terjalnya yang memiliki kecuraman hamper sembilan puluh derajat.
Berpeluh keringat dan penuh perjuangan karena harus menapaki batu-batu karang yang cadas. Namun peluh itu terbayarkan ketika say berada di puncaknya. Say mengucap syukur dan takjub karena selama perjalanan saya mengelilingi Indonesia, tak ada tempat yang seindah ini yang pernah dilihat oleh kedua mata saya.
Saya beserta rombongan kembali pulang menuju Sorong ketika lembayung senja menghiasi keindahan cakrawala di ufuk barat. Goresan tinta keindahan yang dilukiskan Sang Pencipta di Raja Ampat benar-benar membuat saya takjub dan membuat iri rekan-rekan yang belum pernah mengunjunginya.

More photos of Raja Ampat please... Heheh!
Saya pingin bisa ke sana nantinya :D
http://nonadita.com
nice post.... and always keep promoting the natural beauty of Indonesia