Melihat Sampah dengan cara Berbeda

Tuesday, November 17, 2009 Leave a Comment

Kantor Mita begitu luas hingga bisa menampung 300 keluarga yang berasal dari daerah kumuh di Jakarta. Di sini, ia memberi harapan bagi banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mita memberikan mereka kemampuan, bukan sekedar menghibahkan uang atau hadiah agar mereka bisa belajar kecakapan baru untuk mengubah sampah menjadi sumber pendapatan.
Setelah hengkang dari karir bisnisnya yang menanjak di Yogyakarta, Mita mengambil langkah bergabung dengan Water Sanitation Action (kemudian disebut Immanuel Foundation) di Jakarta pada tahun 2006. Mita mencari perubahan. Di tengah pemukiman kumuh Jakarta inilah, ia menemukan ribuan orang yang membutuhkan kehidupan lebih baik sekaligus jalan untuk menyalurkan keinginannya mengabdi pada masyarakat.

Mahrizal dibesarkan ditengah keluarga petani kakao. Ia memiliki hubungan khusus dengan komunitas yang dibantunya. "Keluarga saya membiayai pendidikan saya. Tetapi saya ingin melihat generasi yang lebih muda bisa mendapatkan hasil yang sama dari kakao dan sama berunutngnya dengan saya," ujar dia.

Akan tetapi, melakukan perubahan bukanlah hal mudah. Mita baru menyadari bahwa penduduk miskin yang ia layani memiliki kesadaran yang minim terhadap kebersihan makanan dan air, bahkan sering tidak memedulikan lingkungan. Saat itu, para pemimpin lokal tak menyadari bahwa dengan menerima bantuan yang ditawarkan Mita, masalah kesehatan dan lingkungan mereka akan terbantu.

Melihat sampah dengan cara berbeda

Tahun 2008, Mita membantu masyarakat melihat sampah dengan cara yang benar-benar berbeda. “Mereka setiap hari melihat sampah. Anak-anak lahir dekat sampah, tumbuh besar dikelilingi sampah, dan mereka tak merasa ada yang aneh dengan hal itu,” kata Mita.

Ia kemudian mengubah keadaan sekitar dengan membantu komunitas lebih memahami dampak sampah bagi kesehatan dan mengajarkan mereka untuk melihat sampah dari sudut pandang ekonomis.

Cara yang ia ajarkan adalah mengumpulkan, membersihkan, dan mendaur ulang sampah menjadi barang yang bisa dijual seperti tas. Dengan cara ini, Mita telah menciptakan sumber pendapatan baru. Para keluarga yang tadinya hanya mendapatkan Rp250.000 sebulan, setelah mengikuti proyek daur ulang ini bisa mendapatkan penghasilan dua kali lipat. Dan pada saat yang sama, dapat mengolah sampah dan mengelola pemakaian air secara baik yang bermanfaat untuk meningkatkan taraf kesehatan komunitasnya. Sampah akan selalu ada. Akan tetapi, sulit mencari pribadi yang berkomitmen membantu orang miskin mengubah sampah menjadi sumber nafkah. Mita adalah salah satunya.
Sumber: greenjourney/kompas.com

0 comments »

Leave your response!